Selamat Datang di bunyukita.com

Pendidikan Tinggi atau Pabrik Gelar?



Pendidikan tinggi seharusnya menjadi ruang pembentukan nalar, karakter, dan integritas. Namun hari ini, pertanyaan yang semakin sering muncul adalah: apakah perguruan tinggi masih menjadi tempat belajar, atau telah bergeser menjadi sekadar pabrik pencetak gelar?

Pertanyaan ini tidak lahir tanpa sebab. Ia muncul dari kegelisahan banyak pihak—dosen, mahasiswa, hingga masyarakat—yang melihat bagaimana makna pendidikan perlahan direduksi menjadi angka, ijazah, dan kecepatan lulus.

Di banyak kampus, gelar akademik tidak lagi diposisikan sebagai konsekuensi dari proses belajar, melainkan sebagai
tujuan utama. Mahasiswa berlomba lulus cepat, mengejar IPK tinggi, dan mencari jalan pintas agar skripsi segera selesai. Proses berpikir kritis, diskusi ilmiah, dan pencarian makna sering kali dianggap sebagai penghambat, bukan kebutuhan.

Ketika orientasi bergeser seperti ini, berbagai praktik abu-abu pun tumbuh subur: plagiarisme, titip tugas, hingga jasa penulisan akademik. Ironisnya, praktik tersebut sering dianggap sebagai “rahasia umum” yang dibiarkan karena dianggap sudah lumrah.




Tidak adil jika kesalahan sepenuhnya dibebankan kepada mahasiswa. Sistem pendidikan tinggi sendiri turut menyumbang persoalan. Indikator kinerja yang terlalu menekankan angka kelulusan, masa studi, dan serapan lulusan secara tidak langsung mendorong kampus untuk lebih fokus pada hasil akhir dibandingkan kualitas proses.

Dosen pun berada dalam dilema. Di satu sisi dituntut menjaga mutu akademik, di sisi lain dihadapkan pada tekanan administratif, beban kinerja, dan target institusi. Akibatnya, fungsi pendidikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya sering kali terpinggirkan.

Dalam situasi seperti ini, integritas akademik berubah menjadi sesuatu yang “mahal”. Mahasiswa yang jujur dan tekun kerap merasa tertinggal dari mereka yang memilih jalan pintas. Kejujuran tidak selalu dihargai, sementara pelanggaran sering kali lolos tanpa konsekuensi yang berarti.

Jika dibiarkan, kampus tidak lagi menjadi benteng moral dan intelektual, melainkan tempat kompromi nilai. Gelar tetap keluar, tetapi kompetensi dan karakter tidak selalu ikut serta.




Bahaya terbesar dari kondisi ini bukan hanya lulusan yang kurang kompeten, tetapi hilangnya ruh pendidikan itu sendiri. Pendidikan tinggi sejatinya mengajarkan cara berpikir, keberanian bertanya, dan tanggung jawab intelektual. Tanpa itu, gelar hanyalah simbol kosong.

Lebih jauh lagi, masyarakat akan menanggung dampaknya. Lulusan yang terbiasa menyiasati proses akan membawa pola yang sama ke dunia kerja dan ruang publik. Ketika integritas rapuh di bangku kuliah, jangan heran jika ia rapuh pula dalam pengambilan keputusan di kemudian hari.

Pertanyaan “pendidikan tinggi atau pabrik gelar?” sejatinya adalah ajakan untuk bercermin. Kampus perlu berani menata ulang orientasi, menempatkan proses belajar sebagai inti, bukan sekadar pelengkap administrasi. Mahasiswa perlu disadarkan bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang, bukan perlombaan cepat-cepat selesai.

Pendidikan tinggi tidak boleh kalah oleh logika industri semata. Ia harus tetap menjadi ruang pencarian kebenaran, pembentukan etika, dan pengasahan nurani. Jika tidak, kita mungkin akan memiliki banyak sarjana—tetapi semakin sedikit cendekiawan.




Isi Komentar Anda

Silahkan berikan komentar anda...

Previous Post Next Post